
Dari Mangrove dan Rumput Laut Menjadi Peluang Usaha: Jurusan Ilmu Kelautan Untan Berdayakan Perempuan Pesisir Sungai Kupah Hadapi Tantangan Perubahan Iklim
Kubu Raya – Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura (Untan) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan masyarakat pesisir melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Desa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Mangrove Lestari melalui Diversifikasi Shampoo Bar dari Ekstrak Daun Mangrove dan Sabun Cuci Piring Berbasis Rumput Laut untuk Mendukung Penghidupan Berkelanjutan di Desa Sungai Kupah” ini diketuai oleh Sukal Minsas, S.Si., M.Si., serta melibatkan seluruh dosen Jurusan Ilmu Kelautan FMIPA Untan. Sebanyak 30 perempuan pesisir yang tergabung dalam Kelompok Mangrove Lestari Kampung Nelayan mengikuti pelatihan dan praktik pembuatan produk ramah lingkungan berbasis sumber daya pesisir.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pelatihan pembuatan shampoo bar berbahan ekstrak daun mangrove serta sabun cuci piring cair berbasis rumput laut. Selain menerima materi, peserta juga terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari persiapan bahan, formulasi, pencampuran, hingga pengemasan produk.
Ketua tim pengabdian, Sukal Minsas, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya pesisir sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
“Mangrove dan rumput laut tidak hanya memiliki fungsi ekologis yang penting, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat, khususnya perempuan pesisir, memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Program ini dirancang dengan pendekatan Sustainable Livelihood (penghidupan berkelanjutan) sebagai upaya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga nelayan. Selama ini, sebagian besar masyarakat pesisir masih bergantung pada sektor perikanan tangkap yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, musim, dan dampak perubahan iklim. Ketika nelayan tidak dapat melaut akibat cuaca buruk, pendapatan rumah tangga pun ikut terdampak.
Melalui diversifikasi usaha berbasis mangrove dan rumput laut, masyarakat memperoleh alternatif sumber pendapatan yang dapat dijalankan sepanjang tahun dan tidak bergantung sepenuhnya pada hasil tangkapan laut. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Ketua Kelompok Mangrove Lestari, Erlina Amanda, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi kelompok perempuan di Kampung Nelayan Sungai Kupah.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, khususnya perempuan di Kampung Nelayan. Kami mendapatkan keterampilan baru yang dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan dan membantu menambah penghasilan keluarga. Ini menjadi langkah nyata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di sekitar kami,” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan kapasitas masyarakat pesisir dan pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Selain mendukung pencapaian SDGs, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU) Universitas Tanjungpura, khususnya dalam mendorong keterlibatan dosen di tengah masyarakat, penerapan hasil penelitian dan inovasi, serta peningkatan kontribusi perguruan tinggi dalam penyelesaian permasalahan pembangunan daerah.
Melalui kegiatan ini, Jurusan Ilmu Kelautan FMIPA Untan berharap inovasi berbasis mangrove dan rumput laut dapat terus berkembang menjadi peluang usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama sebagai simbol kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kawasan pesisir yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan. Antusiasme peserta selama pelatihan menjadi harapan baru bahwa inovasi sederhana berbasis sumber daya lokal mampu membuka jalan menuju ketahanan ekonomi keluarga nelayan di tengah tantangan perubahan iklim yang terus berkembang.
Dari mangrove dan rumput laut tumbuh harapan baru bagi perempuan pesisir untuk membangun masa depan yang lebih mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.



