
Edukasi Statistik Series 9 Dorong Pemanfaatan Data untuk Membaca Peluang Ekonomi Kalimantan Barat
Pontianak, 24 September 2026 — UPA Perpustakaan Universitas Tanjungpura (UNTAN) bersama Pojok Statistik UNTAN, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat, dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat menyelenggarakan Edukasi Statistik Series 9 secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (24/9/2026). Edukasi Statistik Series 9 mengangkat tema “Membaca Ekonomi melalui Data: Memahami Kondisi dan Peluang Ekonomi Kalimantan Barat”. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Statistik Nasional 2026 dengan tema “Statistik Berkualitas untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala UPA Perpustakaan UNTAN, Abdullah Imam, S.Sos. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pentingnya kegiatan edukasi statistik sebagai sarana untuk meningkatkan literasi data di lingkungan perguruan tinggi. Kemampuan memahami dan menggunakan data secara tepat diperlukan agar sivitas akademika mampu melihat kondisi ekonomi secara objektif serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Edukasi Statistik Series 9 menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Preatin, SST., M.Si., Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Barat, dan Achmad Maulana, Ekonom Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan dipandu oleh Ahmadi, S.E., M.Sc., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNTAN.
Pada sesi pertama, Dr. Preatin, SST., M.Si. menyampaikan materi mengenai kondisi perekonomian Kalimantan Barat berdasarkan data statistik. Pemaparan mencakup perkembangan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor-sektor yang memberikan kontribusi terhadap perekonomian, serta variasi potensi ekonomi antardaerah.
Dr. Preatin menjelaskan bahwa setiap kabupaten dan kota di Kalimantan Barat memiliki struktur dan potensi ekonomi yang berbeda. Perekonomian Kota Pontianak dan Kota Singkawang, misalnya, banyak ditopang oleh sektor perdagangan. Kabupaten Kubu Raya dan Ketapang memiliki dukungan sektor industri pengolahan, sedangkan sejumlah kabupaten lainnya masih bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa strategi pengembangan ekonomi perlu disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah.
Pada sesi kedua, Achmad Maulana menyampaikan materi bertajuk “Menjaga Stabilitas dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Barat di Era Digital”. Pemaparan difokuskan pada perkembangan inflasi dan berbagai upaya pengendaliannya, serta pengembangan ekonomi dan keuangan digital di Kalimantan Barat.
Peserta memperoleh penjelasan mengenai perkembangan inflasi Kalimantan Barat, baik secara bulanan, tahunan, maupun menurut wilayah. Pengendalian inflasi membutuhkan sinergi berbagai pihak melalui strategi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Data inflasi menjadi dasar penting dalam mengidentifikasi komoditas penyumbang perubahan harga serta merumuskan kebijakan yang tepat bagi masyarakat.
Selain menjaga stabilitas harga, transformasi digital juga menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Achmad Maulana menjelaskan kondisi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Barat serta manfaat digitalisasi dalam memperluas pasar, meningkatkan efisiensi usaha, dan memperkuat pencatatan transaksi.
Berdasarkan materi yang dipaparkan, terdapat 338.258 unit UMKM di Kalimantan Barat dan sekitar 99,38 persen di antaranya merupakan usaha mikro. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas dan digitalisasi UMKM memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah. Upaya pengembangannya dapat dilakukan melalui proses onboarding UMKM, penerapan digital farming, pencatatan keuangan digital, dan pemanfaatan QRIS sebagai sarana pembayaran.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta berkesempatan berdialog langsung dengan narasumber mengenai kondisi ekonomi Kalimantan Barat, cara membaca indikator ekonomi, pengendalian inflasi, potensi ekonomi daerah, digitalisasi UMKM, dan pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan selama sesi diskusi. Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 140 peserta tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan sivitas akademika dan masyarakat terhadap informasi ekonomi yang akurat, kontekstual, serta mudah dipahami.
Melalui Edukasi Statistik Series 9, UPA Perpustakaan dan Pojok Statistik UNTAN terus memperkuat kolaborasi dengan BPS Provinsi Kalimantan Barat dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat dalam meningkatkan literasi statistik dan ekonomi. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak hanya membaca angka, tetapi juga memahami makna, keterkaitan, dan implikasi data bagi pembangunan daerah.Dengan literasi statistik yang semakin baik, data diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan, pengembangan penelitian, penciptaan inovasi, dan pengambilan keputusan yang mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat secara inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.



