
Sinergi UPA Perpustakaan dan Pojok Statistik UNTAN: Dari Data Menjadi Informasi Visual yang Efektif
Pontianak, 18 Agustus 2026 — UPA Perpustakaan Universitas Tanjungpura (UNTAN) bersama Pojok Statistik UNTAN kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi data dan kompetensi komunikasi informasi melalui penyelenggaraan Edukasi Statistik Series 7, Selasa (18/8/2026), pukul 09.00–12.00 WIB, bertempat di Pojok Statistik Universitas Tanjungpura.
Mengangkat tema “Optimalisasi Komunikasi Visual melalui Pemanfaatan Infografis dan Flyer sebagai Media Penyampaian Informasi yang Efektif”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk membekali peserta dengan kemampuan tidak hanya dalam memahami data, tetapi juga mengomunikasikannya secara menarik, akurat, dan mudah dipahami oleh berbagai kelompok audiens.
Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Kepala UPA Perpustakaan Universitas Tanjungpura, Abdullah Imam, S.Sos. Dalam sambutannya, disampaikan pentingnya penguatan kemampuan komunikasi informasi di tengah semakin besarnya arus data pada era digital. Data dan informasi yang berkualitas perlu didukung dengan cara penyajian yang tepat agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat diterima dan dipahami secara efektif oleh masyarakat.
Edukasi Statistik Series 7 menghadirkan dua narasumber, yaitu Erina Herwindalita, A.Md.Stat. dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat dan Wirda Andani, S.Si., M.Si. dari Universitas Tanjungpura. Kedua narasumber menyampaikan materi yang saling melengkapi, mulai dari bagaimana data dikemas menjadi sebuah cerita visual hingga prinsip memilih bentuk visualisasi yang sesuai dengan karakter data dan tujuan komunikasi.

Pada sesi pertama, Erina Herwindalita, A.Md.Stat. membawakan materi bertajuk “Ceritakan Data Lewat Infografis.” Ia menjelaskan bahwa visualisasi data memiliki peran penting dalam menarik perhatian audiens, menyederhanakan data yang kompleks menjadi informasi yang lebih mudah dipahami dan diingat, serta membantu menemukan pola, tren, dan insight yang dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan.
Dalam penyampaian materinya, Erina menguraikan tahapan pembuatan infografis yang dimulai dari menentukan tujuan dan data yang digunakan, mengenali karakteristik audiens, menentukan komponen visual, menyusun desain infografis, hingga melakukan evaluasi sebelum informasi tersebut dipublikasikan. Ketepatan data, keterbacaan, alur informasi, pencantuman sumber, dan aspek hak cipta juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam menghasilkan infografis yang berkualitas.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada berbagai komponen visual yang menentukan efektivitas sebuah infografis, seperti skema warna, tipografi, prinsip layout, dan pemilihan ikon. Penggunaan elemen-elemen tersebut perlu dirancang secara konsisten agar tampilan visual tidak hanya menarik, tetapi juga mampu mengarahkan perhatian pembaca pada informasi yang menjadi pesan utama.
Materi kedua disampaikan oleh Wirda Andani, S.Si., M.Si. yang membahas lebih lanjut prinsip penyajian data dan pemilihan visualisasi yang efektif. Dalam pemaparannya ditekankan bahwa infografis yang baik bukanlah infografis yang paling banyak menggunakan warna atau grafik, melainkan yang mampu membuat audiens memahami pesan utama dengan cepat.
Wirda menjelaskan bahwa proses pembuatan infografis sebaiknya tidak diawali dengan memilih grafik, kemudian menyesuaikan data yang tersedia. Alur yang tepat justru dimulai dengan memahami karakter data, menentukan tujuan komunikasi dan pesan yang ingin disampaikan, memilih jenis grafik yang sesuai, kemudian merancang desain visualnya.
Pemilihan grafik juga harus mempertimbangkan tujuan komunikasi. Grafik batang dapat digunakan untuk membandingkan nilai antarkategori, line chart untuk menunjukkan perubahan sepanjang waktu, scatter plot untuk memperlihatkan hubungan antara dua variabel, histogram atau box plot untuk menggambarkan distribusi data, sedangkan peta dapat digunakan untuk menyajikan informasi berdasarkan wilayah. Untuk menggambarkan proses atau tahapan, visualisasi dapat menggunakan flowchart, funnel, maupun timeline. Dengan demikian, tidak ada satu grafik yang selalu paling baik karena visualisasi yang efektif adalah visualisasi yang paling sesuai dengan pesan yang hendak disampaikan.
Setelah pemaparan kedua materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Sesi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi secara langsung dengan kedua narasumber mengenai berbagai aspek komunikasi visual, mulai dari pemilihan grafik, penyusunan infografis, pengemasan pesan, hingga strategi menyajikan data agar tetap informatif sekaligus menarik bagi audiens.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat dan suvenir kepada kedua narasumber oleh Ketua Pojok Statistik Universitas Tanjungpura, Neva Satyahadewi, M.Sc., CRA., CRP., CRMP. Penyerahan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi dan kesediaan narasumber berbagi pengetahuan serta pengalaman kepada peserta Edukasi Statistik Series 7.
Melalui kegiatan ini, UPA Perpustakaan dan Pojok Statistik UNTAN mendorong berkembangnya literasi data yang tidak berhenti pada kemampuan membaca dan mengolah angka. Kemampuan mengubah data menjadi informasi visual yang tepat, menarik, dan mudah dipahami menjadi kompetensi penting agar informasi berbasis data dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Sinergi UPA Perpustakaan dan Pojok Statistik UNTAN melalui Edukasi Statistik Series 7 sekaligus memperkuat kolaborasi dengan Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat dalam membangun budaya sadar data di lingkungan perguruan tinggi. Melalui kegiatan edukasi yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Pojok Statistik diharapkan semakin berkembang sebagai ruang belajar, berbagi pengetahuan, dan peningkatan kompetensi sivitas akademika dalam memanfaatkan serta mengomunikasikan data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi.



