
UNILA Benchmarking ke UNTAN: Pelajari Tata Kelola RSPTN yang Telah Beroperasi Sejak 2013
Pengelolaan rumah sakit pendidikan membutuhkan perencanaan matang, tata kelola yang kuat, serta pengalaman yang tidak singkat. RSPTN Universitas Tanjungpura (UNTAN), yang telah beroperasi sejak lebih dari satu dekade, menjadi salah satu model keberhasilan dalam menjalankan rumah sakit pendidikan di lingkungan perguruan tinggi. Pengalaman panjang inilah yang menjadikan RSPTN UNTAN sebagai tujuan pembelajaran strategis bagi perguruan tinggi lain yang tengah bersiap membangun dan mengoperasikan RSPTN, termasuk Universitas Lampung (UNILA).
Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Tinggi Negeri (RSPTN) UNILA yang saat ini tengah berjalan dan segera rampung mendorong perlunya pemahaman mendalam mengenai tata kelola rumah sakit pendidikan yang efektif. Sebagai bagian dari persiapan tersebut, Tim Project Implementation Unit (PIU) dan Project Management Unit (PMU) UNILA melakukan benchmarking ke UNTAN pada Rabu, 10 Desember 2025.

Rombongan UNILA bersama Direktur Sumber Daya Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi, Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., disambut hangat oleh Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Garuda Wiko, M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Garuda menegaskan bahwa mengelola RSPTN tidaklah mudah karena memerlukan inovasi, inisiatif, dan komitmen dari seluruh manajemen.
“RSPTN UNTAN sudah berdiri sejak 2013. Terus terang, baru tahun kemarin rumah sakit bisa rebound dan biaya operasional dapat tertutup. Selalu ada catatan dan tantangan, tetapi di situlah keunikannya. Tantangan ini justru menuntut manajemen untuk terus berinovasi,” ungkapnya. Ia berharap kunjungan ini memberikan manfaat besar bagi UNILA dalam mematangkan persiapan operasional RSPTN mereka.
Sementara itu, Direktur Sumber Daya Kemdiktisaintek, Prof. Sri Suning Kusumawardani, menegaskan bahwa pengelolaan RSPTN UNTAN patut dijadikan contoh, mulai dari tata kelola layanan, pengelolaan SDM, aset, hingga pelayanan medis. Ia juga menyampaikan apresiasi atas keterlibatan tim PIU dan PMU UNILA serta perwakilan ITS yang turut hadir untuk belajar langsung.
“Benchmarking ini sangat relevan untuk memberikan gambaran praktik baik terkait tata kelola, master plan, manajemen mutu, keselamatan pasien, hingga layanan medis. Pengalaman UNTAN menunjukkan pentingnya penyelarasan antar pihak, regulasi yang tepat, serta penyediaan SDM yang kompeten,” jelas Prof. Suning.

Rektor UNILA, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya kunjungan ini yang telah direncanakan jauh hari. Ia menegaskan bahwa UNILA ingin belajar secara komprehensif mengingat pembangunan RSPTN UNILA dan Gedung IRC sedang memasuki tahap akhir dengan dukungan pendanaan IDB Project.
“Alhamdulillah kami bersyukur dapat kesempatan belajar langsung dari UNTAN. Kami diinformasikan bahwa RSPTN UNTAN sudah berdiri sejak 2013, sementara di UNILA baru memasuki tahap pembangunan. Tentu ini menjadi pembelajaran penting bagi kami,” ujarnya.
Paparan materi mengenai tata kelola RSPTN UNTAN disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. rer.nat. Ir. R. M. Rustamaji, M.T., IPU, dan dr. Mira Delima Asikin, Sp.PD, MMR. Pemaparan mencakup aspek perencanaan, manajemen layanan, pengelolaan SDM, mutu, keselamatan pasien, serta strategi keberlanjutan rumah sakit.

Kegiatan ditutup dengan visitasi lapangan ke RSPTN UNTAN, di mana tim UNILA dapat melihat langsung implementasi tata kelola dan operasional layanan yang telah berjalan.
Benchmarking ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi UNILA dalam mempersiapkan operasional RSPTN secara matang, sekaligus memperkuat jaringan kolaborasi antar rumah sakit pendidikan di Indonesia



