
EDUCULTECH 2026, FKIP UNTAN Soroti Tantangan Etika AI dalam Dunia Pendidikan
PONTIANAK – Pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) membuka peluang baru dalam dunia pendidikan. Namun, perkembangan teknologi ini juga menuntut kesiapan dalam membangun pembelajaran yang etis, inklusif, dan tetap menghargai keberagaman budaya. Isu tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam The 2nd International Conference on Education, Cultural, and Technology (EDUCULTECH 2026) yang diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (UNTAN) di Hotel Orchardz A. Yani, Pontianak, Sabtu (10/10/2026).
Mengusung tema “Education Innovation, Culture Sustainability, and Digital Technology: Shaping the Future of Education through Artificial Intelligence, Inclusive Practices, and Multiculturalism”, konferensi ini mempertemukan pendidik, peneliti, praktisi, pemangku kebijakan, dan mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Dalam pembahasannya, para narasumber menyoroti perubahan yang dibawa AI terhadap pendidikan dan linguistik terapan. Teknologi ini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi juga mulai mengambil peran dalam membentuk pola pembelajaran dan ekosistem pendidikan yang baru.
Meski menawarkan berbagai peluang, pemanfaatan AI perlu disertai pemahaman kritis dan tanggung jawab etis. Literasi digital, praktik pembelajaran yang inklusif, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya menjadi aspek penting agar inovasi teknologi dapat mendukung pendidikan yang berkeadilan.
Perspektif tersebut dibahas bersama empat narasumber, yakni Dr. Aisling O’Boyle dari Queen’s University, Urai Salam, M.CALL., Ph.D. dari UNTAN, Dr. Zuraina Binti Ali dari Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah, serta Dr. Lalu Nurul Yaqin dari Universiti Brunei Darussalam. Kehadiran para narasumber dari berbagai institusi membuka ruang pertukaran perspektif mengenai tantangan dan peluang pendidikan di tengah perkembangan teknologi digital.
Rektor UNTAN Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., berharap konferensi ini dapat memperkuat jejaring akademik, membuka kemitraan internasional, dan menghasilkan gagasan inovatif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia maupun dunia. Ia juga mengharapkan kegiatan tersebut menjadi ruang akademik yang produktif, inspiratif, dan bermakna bagi seluruh peserta.
Dekan FKIP UNTAN Urai Salam, Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada peserta, pemakalah, narasumber, dan panitia yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan EDUCULTECH 2026. Ia berharap konferensi ini menghasilkan rekomendasi strategis yang tidak hanya relevan secara ilmiah, tetapi juga dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Konferensi dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahnawan Alkadrin, yang hadir mewakili Gubernur Kalimantan Barat. Dalam sambutannya, ia berharap kegiatan ini dapat mendorong inovasi sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kalimantan Barat.
Ketua Panitia EDUCULTECH 2026, Dr. Marinu Waruwu, S.S., M.Pd., turut menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Konferensi ini juga melibatkan dosen dan tenaga kependidikan FKIP UNTAN sebagai bagian dari penyelenggara.
Melalui EDUCULTECH 2026, FKIP UNTAN menghadirkan ruang dialog akademik lintas negara untuk membahas arah pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Tantangannya bukan hanya memanfaatkan teknologi baru, melainkan memastikan inovasi tersebut berjalan secara bertanggung jawab, merangkul keberagaman, dan mendukung kebut



