
Riset Mitigasi Karhutla FMIPA UNTAN Didukung BRIN dan LPDP, Perangkat IoT Dipasang di Ketapang
KETAPANG – Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura (UNTAN) memasang perangkat pemantauan lingkungan berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Tanjung Baik Budi, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Sabtu (3/10/2026).
Pemasangan ini menjadi titik akhir ekspedisi riset mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir.
Tim riset ini dipimpin oleh Dr. Yundari, M.Sc. dari Program Studi Matematika. Anggotanya terdiri dari Nurfitri Imro’ah, M.Si. (Prodi Statistika), Nur’ainul Miftahul Huda, M.Sc. (Prodi Matematika), serta Rahmi Hidayati, M.Cs. dan Kartika Sari, M.Cs. dari Program Studi Rekayasa Sistem Komputer.

Nur’ainul Miftahul Huda menjelaskan bahwa perangkat tersebut dilengkapi sejumlah sensor. Di antaranya anemometer untuk mengukur kecepatan dan arah angin, sensor suhu dan kelembapan, sensor status hujan, serta sensor kualitas udara untuk mendeteksi partikulat PM2.5 dan gas sebagai penanda awal adanya asap atau kebakaran.
Data dari seluruh sensor diolah oleh mikrokontroler NodeMCU ESP32, kemudian dikirim ke server melalui modem 4G. Perangkat ini menggunakan panel surya sebagai sumber energi mandiri sehingga dapat beroperasi di lapangan tanpa bergantung pada listrik PLN. Data diperbarui secara otomatis setiap 15 menit dengan jangkauan deteksi sekitar 10 kilometer dari titik pemasangan. Seluruh data tersebut dianalisis menggunakan pemodelan spasial-temporal untuk membaca pola perubahan lingkungan sekaligus menyusun prediksi potensi karhutla.
Sementara itu, Rahmi Hidayati yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Rekayasa Sistem Komputer FMIPA UNTAN menambahkan, hasil pemantauan dikelompokkan ke dalam indikator kondisi lingkungan, yakni aman, siaga, dan waspada. Keberadaan asap menjadi salah satu parameter utama yang diperhitungkan. Masyarakat dapat mengakses data aktual dan hasil prediksi ini melalui laman Siaga Api di siagaapi.cloud.

Rahmi menyebutkan bahwa tahun ini merupakan tahun pertama pelaksanaan riset. Tim akan mengevaluasi kinerja perangkat dan kembali ke lokasi pada tahun berikutnya untuk melakukan pemeriksaan berkala.
Di sisi lain, Nurfitri Imro’ah mengungkapkan bahwa sebelum pemasangan di Ketapang, perangkat serupa telah terpasang di enam titik lain, yaitu FMIPA UNTAN Kota Pontianak (29 Mei 2026), Desa Pak Mayam, Kabupaten Landak (12 Agustus 2026), SMA Negeri 4 Kubu Raya (11 September 2026), Kabupaten Sekadau (18 September 2026), Kabupaten Sanggau (19 September 2026), dan Kabupaten Sintang (20 September 2026). Unit di Desa Tanjung Baik Budi ini tercatat sebagai titik ketujuh.
Dengan terpasangnya perangkat di Ketapang, data dari seluruh titik pemantauan kini dapat dihimpun secara terpadu untuk menganalisis kondisi lingkungan dan potensi karhutla. Nurfitri menambahkan, selama berada di Ketapang, tim juga berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, BMKG, UPT KPH Wilayah Selatan, pemerintah setempat, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA).
Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan riset ini. Ia berharap teknologi tersebut dapat membantu pemerintah daerah mendeteksi potensi kebakaran lebih dini, mengingat Ketapang merupakan salah satu daerah di Kalimantan Barat dengan tingkat kerawanan karhutla yang cukup tinggi. Ia juga berharap teknologi ini dapat terus dikembangkan dan dipasang di seluruh kecamatan di Ketapang melalui kolaborasi berkelanjutan bersama pemerintah daerah.



