
Mahasiswa UNTAN Dorong Anak Kubu Raya Bersuara tentang Mitigasi Bencana melalui Photovoice
KUBU RAYA – Sebanyak 17 anak dari Kecamatan Sungai Ambawang berpartisipasi dalam workshop dan riset mitigasi bencana berbasis Photovoice yang diselenggarakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Pama Jubata, Pancaroba. Kegiatan yang diinisiasi Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura bekerja sama dengan Forum Anak Kecamatan Sungai Ambawang ini bertujuan memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyuarakan pandangan dan pengalaman mereka mengenai kondisi lingkungan serta potensi risiko bencana melalui karya fotografi.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim PKM-RSH Sorot Lentera yang diketuai Yakhin Palipuk dan dibimbing Dr. Joshua Fernando, S.I.Kom., M.I.Kom., menghadirkan pendekatan Photovoice untuk melibatkan anak secara aktif dalam memahami dan menyuarakan isu mitigasi bencana melalui fotografi. Tim ini juga beranggotakan Gusti Fardiansyah, Irene Apriani Nahak, Rosinanda Kyato, dan Dzaki Luthfi Nugroho.
Program tersebut merupakan bagian dari penelitian berjudul “Pemetaan Visual dan Komunikasi Photovoice melalui Partisipasi Suara Anak Kubu Raya yang Tangguh Bencana.” Penelitian ini berfokus pada keterlibatan anak sebagai partisipan dalam proses pengamatan, dokumentasi, dan penyampaian perspektif mengenai lingkungan serta potensi risiko bencana yang mereka temui.
Kabupaten Kubu Raya merupakan wilayah yang menghadapi berbagai risiko bencana, seperti banjir serta kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya membangun kesadaran dan kesiapsiagaan sejak usia anak. Namun, edukasi kebencanaan selama ini kerap menempatkan anak sebagai penerima informasi, bukan sebagai partisipan aktif. Melalui pendekatan Photovoice, tim berupaya menghadirkan proses yang lebih partisipatif dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk menghasilkan sekaligus menyampaikan pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Photovoice merupakan pendekatan yang menggabungkan fotografi dengan proses bercerita dan refleksi. Anak-anak diajak mengamati lingkungan sekitar, menentukan hal yang dianggap penting untuk didokumentasikan, kemudian menjelaskan cerita dan pesan di balik foto yang mereka hasilkan.
Regina, salah satu partisipan yang mendokumentasikan dampak kebakaran lahan di wilayahnya, mengungkapkan pentingnya kesadaran dan kehati-hatian dalam mengelola lingkungan pada musim kemarau.
“Biar menjadi pelajaran dan peringatan bahwa kalau membakar sesuatu harus bijak. Harus menyiapkan air sebelum membakar. Mau terjadi kebakaran atau tidak, harus tetap menyiapkan air. Apalagi sudah tahu sedang musim kebakaran, jangan dulu membakar,” ujarnya saat membagikan cerita di balik foto yang diambilnya.
Untuk mendukung proses tersebut, tim memberikan pembekalan mengenai konsep dasar Photovoice dan teknik fotografi menggunakan telepon pintar. Setelah memahami metode dan teknik pengambilan gambar, partisipan melanjutkan kegiatan dengan praktik mendokumentasikan lingkungan sekitar.

Dalam proses praktik, partisipan tidak hanya diarahkan menghasilkan foto yang menarik secara visual. Mereka juga diajak mempertimbangkan pesan yang ingin disampaikan melalui foto, alasan memilih objek tertentu, serta persoalan yang ingin mereka ceritakan kepada orang lain.
Setiap foto kemudian menjadi pintu masuk bagi partisipan untuk menyampaikan cerita. Melalui proses diskusi, anak-anak diberikan ruang untuk menjelaskan pengalaman, pengamatan, serta pandangan mereka terhadap kondisi lingkungan dan kebencanaan. Dengan demikian, foto diposisikan bukan sekadar sebagai hasil dokumentasi, melainkan sebagai media komunikasi yang memungkinkan suara anak hadir dalam proses penelitian.
Ketua Tim PKM-RSH, Yakhin Palipuk, menjelaskan bahwa pendekatan Photovoice dipilih karena mampu mendorong keterlibatan anak secara lebih aktif dalam penelitian.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya diberi tahu tentang apa itu bencana dan bagaimana cara menghadapinya. Kami juga ingin melihat bagaimana mereka memandang lingkungan mereka, persoalan yang mereka anggap penting, dan apa yang ingin mereka sampaikan melalui foto,” ujar Yakhin.
Menurut Tim PKM-RSH, keterlibatan anak dalam isu kebencanaan penting karena mereka memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda dalam melihat lingkungan. Perspektif tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memahami bagaimana pengetahuan mengenai mitigasi bencana terbentuk di tingkat masyarakat.
Selain memberikan pengetahuan dasar mengenai kebencanaan dan fotografi, proses Photovoice juga diarahkan untuk meningkatkan kepekaan partisipan terhadap lingkungan. Anak-anak diajak lebih memperhatikan kondisi di sekitar mereka serta memahami bahwa mitigasi bencana tidak hanya berkaitan dengan tindakan saat bencana terjadi, tetapi juga dengan mengenali risiko dan membangun kepedulian sejak dini.
Foto-foto yang dihasilkan partisipan selanjutnya menjadi bagian dari proses pemetaan visual dalam penelitian. Pemetaan tersebut memperlihatkan bagaimana anak mengidentifikasi lingkungan, risiko, dan persoalan kebencanaan berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Melalui penelitian ini, Tim PKM-RSH Universitas Tanjungpura tidak hanya berupaya meningkatkan pemahaman anak mengenai mitigasi bencana, tetapi juga membuka ruang agar perspektif mereka menjadi bagian dari upaya edukasi kebencanaan. Hasil pemetaan visual beserta cerita yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi bahan pengembangan model edukasi mitigasi bencana yang lebih komunikatif, partisipatif, dan dekat dengan pengalaman anak.
Tentang Penelitian
“Pemetaan Visual dan Komunikasi Photovoice melalui Partisipasi Suara Anak Kubu Raya yang Tangguh Bencana” merupakan penelitian dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tanjungpura. Penelitian ini menggunakan pendekatan Photovoice untuk melibatkan anak dalam proses pengamatan, dokumentasi, dan penyampaian perspektif mengenai lingkungan serta mitigasi bencana.



