
Sinergi Akademisi dan Petani: UNTAN Tuan Rumah Pelantikan dan Workshop APKASINDO Kalbar untuk Mewujudkan Perkebunan Sawit Berkelanjutan
Universitas Tanjungpura (UNTAN) kembali menunjukkan peran dan komitmen nyata dalam mendukung keberlanjutan sektor perkebunan di Kalimantan Barat. Pada 23–24 Mei 2026, Gedung Konferensi UNTAN menjadi pusat berkumpulnya para pemangku kepentingan kelapa sawit sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan strategis, yakni Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Kalimantan Barat yang dirangkaikan dengan workshop edukatif bagi para petani.
Menghadapi tantangan agroklimat dan ancaman ekologis saat ini, kegiatan tersebut mengangkat tema yang sangat krusial, yaitu “Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit”. Melalui tema ini, kegiatan bertujuan memberikan pemahaman mendalam, keterampilan teknis, serta solusi nyata dalam menangani dua ancaman utama bagi perkebunan sawit, yakni penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma dan kerusakan akibat serangan hama kumbang tanduk.
Rektor UNTAN, yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. rer. nat. Ir. R. M. Rustamaji, M.T., IPU., memberikan sambutan sekaligus dukungan terhadap agenda peningkatan kesejahteraan petani kelapa sawit tersebut.

Keterlibatan sivitas akademika UNTAN sangat menonjol dalam memberikan landasan ilmiah terhadap penyelesaian persoalan di lapangan. Salah satu sorotan utama adalah pemaparan dari pakar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Ir. Edy Syahputra, M.Si., yang mempresentasikan “Cetak Biru Ketahanan Agroekosistem Kelapa Sawit”, sebuah konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis pendekatan ekologis.
Dalam paparannya, Prof. Edy mengkritisi penggunaan pestisida kimia berspektrum luas yang berisiko menyebabkan kematian musuh alami hama dan berujung pada ledakan populasi hama (resurjensi). Sebagai solusi yang aplikatif dan ilmiah, konsep tersebut mengajak petani untuk kembali menerapkan pendekatan alami dengan meminimalkan intervensi kimiawi.
Prof. Edy juga mengedukasi peserta mengenai rekayasa ekologis (ecological engineering) melalui pemanfaatan tanaman refugia, seperti Turnera subulata dan Cassia cobanensis. Tanaman tersebut berperan penting dalam menyediakan sumber energi berupa nektar dan polen yang dapat memperpanjang masa hidup parasitoid dan kumbang predator, sekaligus menyediakan habitat dengan mikroklimat yang stabil.
Khusus untuk pengendalian hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros), pendekatan terpadu yang direkomendasikan mencakup teknik kultur teknis, seperti pencacahan (chipping) batang, penanaman tanaman penutup tanah Mucuna bracteata, hingga pemasangan perangkap feromon secara massal. Berbagai solusi tersebut diharapkan mampu meningkatkan resiliensi ekosistem perkebunan sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap produk sintetik.
Melalui kolaborasi erat antara APKASINDO dan akademisi UNTAN, diharapkan para petani kelapa sawit di Kalimantan Barat tidak hanya mampu mengatasi permasalahan hama secara mandiri, tetapi juga dapat mewujudkan perkebunan sawit yang sehat, produktif, dan tetap menjaga keseimbangan ekologi secara berkelanjutan.



