
Tak Hanya Sediakan Oksigen, Klinik Pratama UNTAN Latih Relawan Hadapi Dampak Karhutla
Pontianak — Klinik Pratama Universitas Tanjungpura (UNTAN) bersama ASA Foundation menyelenggarakan kegiatan bertajuk Penguatan Resiliensi Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Karhutla melalui Kolaborasi Lintas Sektor Berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) Tahun 2026, Rabu (2/9/2026), di Klinik Pratama UNTAN, Gedung B, Jalan Karangan, Bansir Laut, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya dari sisi kesehatan. Kegiatan ini diikuti terutama oleh relawan yang dipersiapkan untuk mendukung program Rumah Oksigen atau Oksipoin.
Rangkaian kegiatan terdiri atas materi mengenai karhutla, evakuasi Tim Oksipoin, materi dasar penanganan dan mitigasi lapangan, hingga materi dan praktik penatalaksanaan bantuan karhutla. Pada sesi materi dasar penanganan dan mitigasi lapangan, relawan mendapatkan pembekalan mengenai langkah-langkah menghadapi kondisi darurat akibat karhutla. Materi mencakup dampak kesehatan dari paparan asap, perlindungan terhadap kelompok rentan, penggunaan masker respirator, deteksi dini titik api, hingga langkah yang perlu dilakukan ketika kebakaran mendekati permukiman.

Menurut Ns. Faisal Kholid Fahdi, S.Kep., Ners., M.Kep., M.Pd., pelatihan tersebut diperlukan untuk membekali relawan dengan kemampuan dasar dalam memberikan penanganan kepada masyarakat yang terdampak karhutla.
“Pelatihan ini bertujuan agar relawan mampu menangani masyarakat yang mengalami sesak napas, termasuk dalam pemasangan oksigen, memahami penanganan dan mitigasi bencana, serta mengetahui langkah-langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Ns. Faisal Kholid Fahdi.
Pembekalan tersebut menjadi penting mengingat paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, hingga memperburuk kondisi seperti asma dan bronkitis. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil dan menyusui, serta masyarakat dengan penyakit penyerta, memerlukan perhatian khusus dalam kondisi tersebut.
Selain penanganan di lapangan, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai langkah-langkah pencegahan dan perlindungan kesehatan. Hal tersebut mencakup pengurangan aktivitas di luar ruangan, menjaga kualitas udara di dalam rumah, penggunaan masker respirator yang sesuai, serta deteksi dini terhadap kondisi kesehatan maupun titik api.

Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan materi dan praktik penatalaksanaan bantuan karhutla yang disampaikan oleh Dr. Poppy Novitarini M. Ked (An), SpAn-TI, Subsp M.N (K). Pada sesi tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai hipoksia dan terapi oksigen sebagai bagian dari penanganan kondisi yang berkaitan dengan gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla.
Pelatihan ini turut mendukung keberadaan Rumah Oksigen atau Oksipoin yang resmi dibuka pada 1 September 2026. Program tersebut menyediakan akses oksigen bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat dampak kabut asap karhutla. Penyediaan oksigen akan berlangsung hingga waktu yang belum ditentukan dan dievaluasi secara rutin setiap dua minggu.
Saat ini, Oksipoin memiliki Posko 1 di sekretariat utama Klinik Pratama UNTAN, Kota Pontianak, serta Posko 2 di halaman Kantor Bupati Kubu Raya. Sementara itu, Posko 3 di Kabupaten Kayong Utara masih dalam proses pengembangan.
Melalui kolaborasi tersebut, Klinik Pratama UNTAN berupaya memperkuat kesiapan masyarakat dalam menghadapi dampak karhutla, tidak hanya melalui dukungan layanan kesehatan, tetapi juga dengan meningkatkan kapasitas relawan di lapangan. Upaya ini diharapkan dapat mendukung respons yang lebih cepat dan tepat terhadap risiko kesehatan masyarakat akibat karhutla



