
UNTAN Perkuat Komitmen Kampus Inklusif melalui Sosialisasi ULD dan Disability Awareness
PONTIANAK – Universitas Tanjungpura (UNTAN) memperkuat komitmennya dalam mewujudkan lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif, ramah, dan setara melalui kegiatan Sosialisasi Keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan Disability Awareness, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang digelar oleh Pusat Bimbingan Konseling dan Unit Layanan Disabilitas (PBKLD) UNTAN ini diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri atas pimpinan universitas, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, mahasiswa penyandang disabilitas, perwakilan BEM dan organisasi mahasiswa, serta perwakilan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan mitra.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNTAN, Dr. Achmadi, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa komitmen terhadap pendidikan inklusif tidak hanya dimulai ketika mahasiswa berada di ruang perkuliahan, tetapi sejak mereka memasuki perguruan tinggi.
Menurutnya, UNTAN terus membuka kesempatan bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas melalui Jalur Seleksi Mandiri Kategori Afirmasi Disabilitas. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi putra-putri bangsa untuk memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas.
“Ketika kita berbicara mengenai mahasiswa penyandang disabilitas, maka yang perlu kita ubah bukanlah mahasiswa tersebut, melainkan cara kita menghadirkan lingkungan pendidikan,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Lebih lanjut, Dr. Achmadi menekankan bahwa keberadaan ULD tidak boleh sekadar menjadi formalitas administratif. ULD harus hadir sebagai ekosistem pendukung yang proaktif, mulai dari identifikasi kebutuhan, asesmen, pendampingan, aksesibilitas, konseling, dukungan pembelajaran, hingga fasilitasi mahasiswa dalam kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
Ia juga mengingatkan bahwa fasilitas yang baik tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila masyarakat kampus belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai disabilitas. Karena itu, dosen, tenaga kependidikan, pengelola kemahasiswaan, dan mahasiswa perlu memiliki pengetahuan serta sikap yang tepat dalam membangun interaksi yang inklusif dan tidak diskriminatif.
Sementara itu, Ketua PBKLD UNTAN, Dr. Halida, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen UNTAN untuk memperkenalkan layanan, peran, dan program ULD agar dapat diakses serta dimanfaatkan oleh seluruh sivitas akademika.
PBKLD ke depan diarahkan menjadi pusat pendampingan, fasilitasi, dan advokasi bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Layanan yang dikembangkan mencakup pendampingan penerimaan mahasiswa baru, advokasi hak mahasiswa, peningkatan aksesibilitas sarana dan prasarana, hingga layanan konseling dan dukungan psikologis.
Selain itu, UNTAN juga terus membenahi dukungan pembelajaran melalui penyediaan akomodasi pembelajaran, materi dalam format yang lebih aksesibel, juru bahasa isyarat, serta pengembangan sistem relawan atau buddy system bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Penguatan disability awareness juga dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan bagi dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Lalan Erlani, M.Ed., dosen Universitas Negeri Jakarta yang memiliki kepakaran di bidang Pendidikan Khusus, termasuk komunikasi augmentatif dan alternatif, teknologi asistif, pembelajaran anak autisme, media pembelajaran adaptif, serta pendidikan inklusif.
Lalan juga memiliki pengalaman dalam pengembangan pendidikan inklusif dan layanan disabilitas di tingkat nasional. Ia pernah terlibat dalam Tim Pengembang Teknologi Asistif dan Unit Layanan Disabilitas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi serta saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran, Sumber Belajar dan Layanan Disabilitas Universitas Negeri Jakarta.
Melalui kegiatan ini, UNTAN menegaskan bahwa kampus inklusif bukan hanya tentang menyediakan fasilitas, tetapi juga membangun budaya kepedulian dan kesadaran bersama.
“Ukuran kemajuan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya capaian prestasi, tetapi juga dari seberapa luas kebermanfaatan yang mampu dihadirkan untuk tumbuh bersama tanpa ada yang tertinggal,” pesan Wakil Rektor III UNTAN.
Kegiatan Sosialisasi Keberadaan ULD dan Disability Awareness tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNTAN. Momentum ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat layanan disabilitas sekaligus mendorong lahirnya aksi nyata menuju UNTAN sebagai kampus yang semakin inklusif, ramah, dan setara bagi seluruh mahasiswa.



