
Kolaborasi Kesehatan Lintas Negara, Mahasiswa Untan dan UNIMAS Belajar dari Realitas Borneo
PONTIANAK — Perbatasan negara ternyata bukan batas untuk belajar bersama. Sebanyak 38 mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK Untan) dan Faculty of Medicine and Health Sciences (FMHS) Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) dipertemukan dalam Borneo Interprofessional Health Education Collaborative (BIHEC) 2026 yang berlangsung pada 7–18 September 2026.
Program ini menjadi ruang bagi mahasiswa kesehatan Indonesia dan Malaysia untuk tidak hanya bertukar pengetahuan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana profesi kesehatan bekerja menghadapi persoalan kesehatan masyarakat di wilayah Borneo.
BIHEC merupakan program mobilitas internasional berbasis Interprofessional Education and Collaborative Practice (IPE-CP) yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu kesehatan melalui pengalaman belajar lintas institusi, rumah sakit, puskesmas, hingga komunitas.
Menariknya, pembelajaran dalam BIHEC tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Para peserta akan mengikuti rangkaian kuliah pakar, diskusi kasus kolaboratif, project-based learning, kuliah tamu, kunjungan ke puskesmas dan rumah sakit, diskusi komunitas, hingga kegiatan budaya.
Sejumlah tema yang diangkat juga dekat dengan konteks pelayanan kesehatan di kawasan Borneo, di antaranya etnofarmasi, etnomedisin, patient safety, serta praktik kolaborasi antara profesi kedokteran, keperawatan dan farmasi.
Ketua Panitia BIHEC 2026, Apt. Shahiroh Haulaini, M. Pharm., mengatakan program tersebut dirancang agar mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai penerapan praktik kolaboratif dalam pelayanan kesehatan.
“BIHEC ini bertujuan agar mahasiswa memahami penerapan kolaboratif, praktik seperti apa antara kedokteran, keperawatan dan farmasi, termasuk melalui kasus nyata yang ada di masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, BIHEC juga memberikan pengalaman akademik yang memiliki pengakuan setara bagi mahasiswa Untan dan UNIMAS. Program ini memiliki bobot 3 SKS dan menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman pembelajaran internasional sekaligus mengenal budaya kedua negara.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK UNTAN), dr. Ita Armyanti, M.Pd., Ked, mengatakan bahwa pembukaan BIHEC 2026 dilaksanakan secara daring dan luring dengan turut mengundang sejumlah institusi pendidikan kesehatan, di antaranya Politeknik ’Aisyiyah Pontianak (Polita), Universitas Santo Agustinus Hippo, dan Akademi Farmasi Yarsi.
“Melalui pelaksanaan BIHEC 2026 ini, kami berupaya membangun jejaring dengan lebih banyak institusi pendidikan kesehatan. Harapannya, pada tahun berikutnya kami dapat melibatkan lebih banyak institusi pendidikan profesi kesehatan sehingga kolaborasi dan dampak kegiatan ini semakin luas,” ujar dr. Ita Armyanti.
Menurutnya, keterlibatan berbagai institusi tersebut merupakan bagian dari upaya FK UNTAN untuk memperluas jejaring kolaborasi dan membuka peluang partisipasi yang lebih luas. Ia berharap, pada pelaksanaan BIHEC di tahun-tahun mendatang, semakin banyak institusi pendidikan profesi kesehatan yang dapat terlibat.

Belajar dari Sistem Kesehatan dan Budaya yang Berbeda
Bagi mahasiswa UNIMAS, BIHEC menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana sistem kesehatan dan budaya masyarakat Indonesia berinteraksi dalam praktik pelayanan kesehatan.

Alis Nasihin binti Arizan, peserta dari FMHS UNIMAS Malaysia, menilai kolaborasi Indonesia-Malaysia dalam bidang pendidikan kesehatan memberikan pengalaman yang berharga.
“Bagi saya, projek ini sangat bagus, lebih lagi untuk anak kesehatan. Dari projek ini kita boleh belajar bagaimana perbedaan budaya Malaysia dan Indonesia dapat dikolaborasikan sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan,” katanya.
Ia menambahkan, pengalaman mengikuti BIHEC membuatnya dapat memahami budaya serta sistem kesehatan di Indonesia secara lebih luas.
“Saya dapat belajar lagi tentang budaya dan sistem Indonesia. Jadi saya bisa belajar lebih luas,” tambahnya.
Pengalaman lintas negara tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan kualitas kesehatan tidak hanya membutuhkan kemampuan klinis, tetapi juga kemampuan tenaga kesehatan untuk memahami budaya, sistem pelayanan dan karakteristik masyarakat yang dilayani.
Membuka Perspektif Mahasiswa tentang Pelayanan Kesehatan
Hal serupa dirasakan Eka Satria, mahasiswa Program Studi Kedokteran FK Untan. Menurutnya, BIHEC memberikan perspektif baru mengenai sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di negara tetangga.
“Kegiatan BIHEC cukup bagus karena kita bisa mengenal bagaimana pembelajaran di kampus lain. Kita juga membutuhkan insight tentang bagaimana pengobatan dan edukasi di negara lain,” ujarnya.

Menurut Eka, pengalaman tersebut menjadi semakin relevan karena masih banyak masyarakat Indonesia yang memilih mendapatkan pelayanan kesehatan di Malaysia.
“Yang pasti kita tahu masih banyak juga orang Indonesia yang berobat bukan di Indonesia sendiri, tetapi ke Malaysia. Mungkin ini menjadi insight bagi kedua belah kampus untuk melihat apa yang membuat orang pergi ke sana, sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi kita,” katanya.
Ia juga menilai pertemuan lintas profesi menjadi salah satu nilai penting dalam program tersebut.
“3 SKS ini cukup bagus. Mahasiswa kedokteran sangat jarang bertemu dengan mahasiswa lain di luar kampus. Jika dimanfaatkan dengan baik, ini sangat bagus ke depannya untuk belajar profesionalisme,” ujarnya.
Eka berharap program serupa dapat diperluas dan diperkenalkan sejak mahasiswa berada di semester awal.
“Harapannya kegiatan ini bisa diperbanyak. Satu modul bisa diperkenalkan pada semester awal, sehingga mahasiswa baru sudah memiliki pandangan tentang perbandingan pendidikan kedokteran di luar Indonesia dan di Indonesia sendiri,” katanya.

Dari Kampus ke Puskesmas dan Rumah Sakit
Selama pelaksanaan BIHEC 2026, mahasiswa akan mengikuti pembelajaran di sejumlah wahana pelayanan kesehatan, termasuk Puskesmas Pal 9 serta rumah sakit seperti Rumah Sakit Utama Pendidikan UNTAN yakni RSUD dr. Soedarso.
Pengalaman lapangan tersebut menjadi bagian penting dari konsep IPE-CP yang diterapkan dalam BIHEC. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori profesinya masing-masing, tetapi ditantang untuk memahami bagaimana setiap profesi berkontribusi dalam satu tim pelayanan kesehatan.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan kuliah tamu dari Untan dan UNIMAS, diskusi kasus, kegiatan komunitas, pleno, serta wisata budaya dan pentas budaya.

Melalui pendekatan tersebut, BIHEC 2026 menjadi lebih dari sekadar program pertukaran mahasiswa. Ia menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memahami bahwa tantangan kesehatan di kawasan Borneo membutuhkan kolaborasi lintas profesi, lintas institusi, bahkan lintas negara.
Di tengah karakteristik Kalimantan yang memiliki wilayah tropis, komunitas beragam dan kawasan perbatasan, pengalaman belajar seperti BIHEC membuka perspektif baru bagi calon tenaga kesehatan untuk melihat persoalan kesehatan secara lebih utuh—bukan hanya dari ruang praktik klinis, tetapi juga dari konteks masyarakat dan budaya tempat pelayanan kesehatan itu berlangsung.
Tag:berdampak, diktisaintek, Indonesia, Kolaborasi, MALAYSIA, UNIMAS



