
UNTAN – BRIN dan Murdoch University, Australia Perkuat Kolaborasi Riset LCA
PONTIANAK – Universitas Tanjungpura (UNTAN) menjadi tuan rumah Seminar “Life Cycle Assessment dan Valorisasi Red Mud: Menuju Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan” yang diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Murdoch University Australia, di Gedung Konferensi UNTAN, Senin (22/6/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional yang melibatkan BRIN, Murdoch University, University of Western Australia, dan Universitas Indonesia serta Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNTAN dalam upaya mengembangkan pemanfaatan residu bauksit atau red mud menjadi material geopolimer yang bernilai tambah untuk mendukung konstruksi pesisir, industri berkelanjutan, dan ekonomi sirkular.
Seminar dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Sistem Informasi Prof. Dr. rer.nat. Ir. R. M. Rustamaji, M.T. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan besar untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang stabil dengan tetap sejalan dengan pelestarian lingkungan. Menurutnya, sektor industri dan manufaktur perlu terus bertransformasi menuju praktik yang lebih efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Dr.-Ing. Ir. Slamet Widodo, M.T., IPM selaku Dekan Fakultas Teknik UNTAN, Dr. Ir. Usman A. Gani, S.T., M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Kimia, dan Wivina D. Ivontianti, S.Si., M.Eng. selaku Kaprodi Teknik Kimia, serta dihadiri pula oleh para dosen, mahasiswa dan instansi terkait di lingkungan Provinsi Kalimantan Barat.
Prof. Rustamaji menjelaskan bahwa pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) menjadi instrumen penting untuk menilai dampak lingkungan suatu produk maupun proses industri secara menyeluruh, mulai dari tahap bahan baku hingga akhir siklus. Pendekatan tersebut memberikan dasar ilmiah dalam pengambilan keputusan guna meningkatkan efisiensi sumber daya dan mengurangi ekses terhadap lingkungan.
Selain itu, ia menyoroti potensi besar red mud yang selama ini dikenal sebagai hasil samping (by produck) pengolahan bauksit. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, red mud dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti material konstruksi, adsorben, katalis, dan berbagai kebutuhan industri lainnya.
“Integrasi antara pendekatan Life Cycle Assessment dan valorisasi red mud merupakan langkah strategis dalam mewujudkan prinsip circular economy, yaitu mengubah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat serta mengoptimalkan penggunaan material”, ujarnya.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri, di antaranya Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Dr. Ir. Nugroho Adi Sasongko, IPU, yang memaparkan mengenai Life Cycle Assessment dan valorisasi red mud menuju sistem industri dan manufaktur berkelanjutan.

Turut hadir pula Associate Professor Martin Anda dari Murdoch University yang membahas pengalaman proyek Colliecrete Australia dalam pengembangan geopolimer berbasis red mud, Zaid Alnessir yang memaparkan teknologi co-calcination red mud sebagai binder geopolimer berkelanjutan, Dr. Linda Li (Academic Chair for the Environmental Engineering major in undergraduate and postgraduate engineering courses at Murdoch University) membahas durabilitas dan karakterisasi material geopolimer, Fred Spring yang mengangkat isu masyarakat adat dalam industri pertambangan Australia, serta Furat Dawood yang membahas pengembangan teknologi hidrogen.
Melalui kegiatan ini, UNTAN berharap dapat memperkuat jejaring kerja sama internasional sekaligus mendorong lahirnya inovasi dan riset yang mampu menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam dan hilirisasi industri berbasis potensi daerah Kalimantan Barat.



