
Dari Deru Mesin ke Sebuah Gagasan, Dua Mahasiswa UNTAN Raih Juara Nasional Lewat Inovasi Efisiensi Truk Tambang
Pontianak – Deru mesin, muatan berat, dan perjalanan berulang di jalan tambang mungkin terdengar seperti bagian biasa dari aktivitas pertambangan. Namun, bagi Afiq Haikal dan Ikbal Sawaludin, di balik aktivitas tersebut tersimpan sebuah pertanyaan yang menarik untuk dijawab: bagaimana membuat truk hauling menggunakan bahan bakar secara lebih efisien?
Pertanyaan sederhana itu kemudian membawa dua mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) tersebut pada sebuah gagasan bernama HEMAT (Hauling Efficiency Management Through Adaptive Throttle). Karya yang menggabungkan teknologi artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) itu mengantarkan Afiq, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro angkatan 2024, dan Ikbal, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika angkatan 2023, meraih Juara I Kategori Esai Tingkat Nasional pada Kideco Innovation Challenge 2026.
Ide HEMAT bermula dari perhatian mereka terhadap tingginya intensitas operasional truk hauling di sektor pertambangan. Semakin sering kendaraan beroperasi, semakin besar pula kebutuhan bahan bakarnya. Dari sanalah keduanya melihat bahwa data yang selama ini tersedia sebenarnya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
“Kalau kita bisa memanfaatkan data yang sudah ada, ditambah data dari sensor, operator bisa mengambil keputusan yang lebih efisien,” ujar Afiq.
Alih-alih membayangkan penggantian seluruh armada dengan kendaraan baru, HEMAT justru menawarkan pendekatan yang lebih sederhana, yakni membuat truk yang sudah ada menjadi lebih cerdas dalam menggunakan bahan bakar.
Cara kerjanya pun dibayangkan seperti seorang asisten yang terus memantau kondisi kendaraan. Sistem mengumpulkan berbagai informasi, mulai dari berat muatan, kemiringan jalan, putaran mesin (RPM), posisi gigi transmisi, hingga konsumsi bahan bakar. Data tersebut kemudian diproses menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi kepada operator, misalnya kapan throttle perlu dikurangi atau disesuaikan.
Namun, keputusan tetap berada di tangan manusia.
Bagi Afiq dan Ikbal, teknologi bukan untuk menggantikan operator, melainkan membantu mereka mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih lengkap. Di sinilah HEMAT menawarkan pendekatan yang berbeda. Sistem pemantauan kendaraan pada umumnya hanya digunakan untuk melihat dan menganalisis kondisi yang telah terjadi. Sebaliknya, HEMAT dirancang untuk memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi aktual truk dan medan yang sedang dilalui.
Tidak berhenti pada persoalan efisiensi bahan bakar, gagasan tersebut juga dilengkapi CO₂ Calculator. Dengan demikian, potensi penghematan bahan bakar dapat diterjemahkan menjadi perkiraan emisi karbon yang berhasil dicegah.
Di balik konsep tersebut, keduanya membagi peran sesuai bidang keahlian masing-masing. Afiq lebih banyak menangani aspek engineering, sistem kendali, serta integrasi sensor. Sementara itu, Ikbal berfokus pada AI, machine learning, pengolahan data, dan pengembangan perangkat lunak. Kedua bidang tersebut kemudian dipadukan menjadi satu konsep yang saling melengkapi.
Perjalanan menuju kompetisi pun tidak sepenuhnya mulus. Tantangan terbesar justru muncul ketika mereka harus memastikan gagasan yang terdengar canggih tetap realistis untuk diterapkan di lingkungan pertambangan.
AI, IoT, sensor, hingga metode seperti Deep Q-Network (DQN) dan Conservative Q-Learning memang terdengar kompleks. Namun, bagi keduanya, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sistem tersebut benar-benar dapat bekerja dalam kondisi nyata?
Mereka kemudian mengkaji berbagai kemungkinan, mulai dari gangguan pembacaan sensor akibat getaran mesin, perubahan performa sensor karena suhu, hingga kemungkinan operator tidak langsung mengikuti rekomendasi dari sistem AI. Berbagai persoalan tersebut mereka telaah melalui studi literatur dan penelitian mengenai konsumsi bahan bakar, emisi, sensor, telematika kendaraan, hingga reinforcement learning.
Dalam proses penyusunan karya, keduanya juga memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, Prof. Dr.Eng. Ir. Ferry Hadary, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng. Berbagai masukan yang diberikan membantu mereka menyempurnakan konsep HEMAT agar memiliki dasar akademik yang kuat sekaligus realistis untuk dikembangkan lebih lanjut. Dukungan dari lingkungan Fakultas Teknik dan UNTAN pun menjadi dorongan tersendiri ketika mereka membawa nama kampus ke tingkat nasional.
Saat memasuki babak final, tantangannya berubah. Bukan lagi sekadar menyusun esai, melainkan mempertahankan gagasan di hadapan dewan juri.
Ada rasa gugup dan ragu, terlebih ketika mengetahui para finalis lain juga membawa gagasan yang kuat. Namun, keduanya memilih berpegang pada satu hal: memahami karya mereka sendiri, termasuk berbagai keterbatasannya..

Hingga akhirnya, nama Universitas Tanjungpura diumumkan sebagai Juara I Kategori Esai.
Kemenangan itu terasa lebih dari sekadar sebuah penghargaan. Mereka datang ke Kalimantan Timur membawa nama UNTAN dan pulang dengan sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa gagasan mahasiswa dari daerah juga mampu bersaing di tingkat nasional.
Meski demikian, perjalanan HEMAT belum berakhir. Saat ini, gagasan tersebut masih berada pada tahap konsep. Afiq dan Ikbal berharap HEMAT dapat dikembangkan menjadi penelitian sekaligus prototipe, mulai dari menguji kemampuan sensor membaca kondisi kendaraan hingga memastikan rekomendasi AI dapat bekerja secara aman dan efisien.
Pada akhirnya, HEMAT mungkin berawal dari sesuatu yang sederhana, yakni melihat bagaimana bahan bakar digunakan dalam aktivitas pertambangan. Namun, dari pertanyaan sederhana itulah lahir sebuah gagasan tentang bagaimana data, teknologi, dan keputusan manusia dapat berjalan beriringan.
Bagi Afiq dan Ikbal, kemenangan bukanlah tujuan akhir. Pengalaman, proses belajar, dan keberanian untuk mencoba justru menjadi bekal paling berharga yang mereka bawa dari setiap kompetisi.
Semangat itulah yang ingin mereka bagikan kepada mahasiswa lain yang masih ragu untuk mulai berkarya atau mengikuti kompetisi.
“Jangan menunggu merasa sudah hebat baru mulai ikut kompetisi,” ujar Afiq.
Ikbal pun meyakini bahwa setiap ide memiliki peluang untuk berkembang selama disertai kemauan untuk belajar dan keberanian untuk mencoba.
“Kalau punya ide, tulis dulu. Cari masalahnya, cari datanya, cari referensinya, kemudian coba ikutkan. Jangan takut kalah. Karena bahkan ketika kita belum menang, kita tetap pulang membawa pengalaman,” ujar Ikbal.
Pesan sederhana itu menjadi penutup yang mengingatkan bahwa setiap pencapaian besar selalu diawali oleh satu langkah kecil: keberanian untuk mencoba.
Kontributor: Mutiara Irawan
Istilah yang Perlu Diketahui
HEMAT (Hauling Efficiency Management Through Adaptive Throttle)
Konsep sistem cerdas yang membantu operator truk hauling mengoperasikan kendaraan secara lebih efisien berdasarkan analisis data kendaraan dan kondisi jalan.
AI (Artificial Intelligence)
Teknologi yang memungkinkan sistem menganalisis data dan memberikan rekomendasi secara otomatis berdasarkan pola yang dipelajari.
IoT (Internet of Things)
Teknologi yang menghubungkan berbagai perangkat dan sensor sehingga data kendaraan dapat dikirim dan diproses secara langsung.
RPM (Revolutions Per Minute)
Satuan yang menunjukkan jumlah putaran mesin setiap menit. Nilai RPM membantu menggambarkan beban kerja mesin saat kendaraan beroperasi.
Throttle
Komponen yang mengatur besar kecilnya tenaga mesin melalui bukaan pedal gas. Pengaturan throttle yang tepat dapat membantu menghemat konsumsi bahan bakar.
Truk Hauling
Kendaraan berat yang digunakan untuk mengangkut material, seperti batu bara atau mineral, dari lokasi penambangan menuju titik pengolahan atau penampungan.
CO₂ Calculator
Fitur yang memperkirakan besarnya pengurangan emisi karbon berdasarkan potensi penghematan bahan bakar yang dihasilkan sistem.



