
UNTAN Perkuat Kapasitas Pengelola dan Relawan Unit Layanan Disabilitas
PONTIANAK — Universitas Tanjungpura (UNTAN) melalui Pusat Bimbingan dan Konseling serta Layanan Disabilitas menyelenggarakan Pelatihan Kapasitas Pengelola Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan Relawan pada Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater 1, Gedung Konferensi UNTAN ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola dan relawan dalam memberikan layanan dan pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Ketua panitia, Marwah Rusydiana, M.A., mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengelola Unit Layanan Disabilitas dan relawan agar mampu memberikan layanan yang inklusif di lingkungan kampus.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memperkuat komitmen dan kolaborasi dari seluruh pihak dalam mewujudkan lingkungan kampus yang inklusif,” ujarnya.
Memahami Cara Berinteraksi dan Memberikan Dukungan
Pada sesi materi, Khofidotur Rofiah, M.Pd., Ph.D., selaku narasumber, mengajak peserta membangun cara pandang yang tepat terhadap penyandang disabilitas. Menurutnya, penyandang disabilitas perlu dipandang sebagai individu yang memiliki kemampuan, tujuan, dan harapan, bukan semata-mata berdasarkan kondisi disabilitas yang dimilikinya.
“Jangan melihat disabilitas itu sebagai korban. Kita jangan fokus pada disabilitasnya. Tapi mereka sama, kita lihat sebagai orang yang punya self-esteem, yang punya tujuan, yang punya harapan,” katanya.
Khofidotur juga menekankan bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki kebutuhan dan pengalaman yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan pendampingan tidak dapat disamaratakan, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Selain membangun cara pandang yang inklusif, peserta juga diperkenalkan pada prinsip 5A, yakni Ask, Accept, Address, Ask Permission, dan Avoid Assumption. Prinsip tersebut menekankan pentingnya berkomunikasi secara langsung, meminta izin sebelum memberikan bantuan, serta menghindari asumsi terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Peserta Praktik Bahasa Isyarat dan Pendampingan Tunanetra
Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik. Peserta diperkenalkan pada Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sebagai bagian dari pengenalan komunikasi dengan individu Tuli.
Peserta juga mempraktikkan cara mendampingi penyandang tunanetra dalam berbagai situasi, mulai dari menawarkan bantuan, mendampingi saat berjalan dan menaiki tangga, hingga membantu menemukan tempat duduk. Dalam praktik tersebut, Khofidotur menekankan bahwa bantuan sebaiknya diberikan setelah memperoleh persetujuan dari penyandang disabilitas agar pendampingan tetap menghormati kemandirian mereka.
“Kalau kita mau membantu, kita perlu untuk menawarkan. Kita perlu bertanya dulu, ‘Apakah Anda membutuhkan bantuan?’ Baru kemudian mereka menjawab ya atau tidak,” jelasnya.
Ketua Pusat Bimbingan dan Konseling serta Layanan Disabilitas UNTAN, Dr. Sri Halidjah, M.Pd., mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya UNTAN dalam memperkuat layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas melalui peningkatan kapasitas pengelola Unit Layanan Disabilitas dan relawan.
Menurutnya, relawan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif karena menjadi pendamping yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas relawan perlu terus dilakukan guna menumbuhkan empati serta meningkatkan kesiapan mereka dalam memberikan pendampingan yang tepat.

Melalui pelatihan ini, UNTAN terus memperkuat kapasitas pengelola Unit Layanan Disabilitas dan relawan sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan akademik yang memberikan kesempatan bagi seluruh mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan berpartisipasi secara setara.
Kontributor: Deya Febri Pratiwi



